Minggu, 22 April 2012

peringatan kartini

Peringatan Hari Kartini Masih Sekadar Seremonial
 
image
KUDUS, suaramerdeka.com - Beragam cara dilakukan banyak pihak dalam rangka memeringati Hari Kartini. Namun umumnya, para perempuan, mulai dari anak Playgroup hingga pegawai negeri sipil (PNS), selalu mengenakan kebaya sebagai ‘kostum wajib’ yang mesti dikenakan.
Hal itu terlihat pula dalam peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan Akademi Kebidanan (Akbid) Pemerintah Kabupaten Kudus. Dalam apel (upacara) yang dipimpin Elly Yuniwati SSiT MKes itu, sebanyak 261 mahasiswi berkebaya dan mengenakan kain jarik.
Direktur Akbid Pemkab Kudus Trisno Suwandi SPd MM mengutarakan, kegiatan ini digelar untuk mengenang jasa pahlawan emansipasi di Indonesia itu. "Harapannya, sosok Kartini tidak sekadar dikenal, namun bisa diteladani," katanya.
Di tengah-tengah upacara, diselipkan ‘amanah’ dari pemimpin apel, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan biografi singkat Kartini berikut petikan-petikan surat isnpiratif hasil korespondensi Kartini dengan teman-temannya di Eropa.

Kendati setiap tahun selalu diperingati dengan semarak, namun menurut Ketua Pusat Studi Gender (PSG) STAIN kudus Siti Malaiha Dewi MSi, Hari Kartini masih sebatas diperingati sebagai acara seremonial saja.
"Kartini merupakan sosok perempuan yang tak henti-hentinya berusaha membuka mata kaumnya dari ketertindasan, keterbelakangan, serta kebodohan dengan aksi nyata. Maka memeringati Hari Kartini jangan sampai terjebak pada kegiatan seremonial belaka," tuturnya.
Hingga saat ini, kegiatan yang lazim digelar seperti lomba memasak, pidato berbusa-busa dan upacara-upacara dengan memakai kebaya saja. "Seharusnya yang harus dilakukan adalah membebaskan perempuan dari struktur penindasan. Dan Hari Kartini, bisa menjadi momen melakukan langkah kecil untuk sebuah perubahan besar, yakni kebangkitan perempuan," tegasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar